Mentari di Timur Jawa

bromo

Menjelang pagi yang baru di timur Pulau Jawa, ketika kabut masih asyik bercengkerama dengan bintang gemintang, enggan beranjak walau Sang Mentari sudah memohon untuk bertukar peran.

“Aku masih rindu dengan gemintang” ujar Kabut

“Setiap malam kamu menyelimuti gemintang, mengapa rindu, toh 12 jam lagi kamu akan kembali menemaninya” Mentari protes dengan judes. Ia harus segera bertugas kalau tidak jutaan makhluk akan kehilangan daya hidupnya hari itu. Lihat di bawah sana, banyak makhluk yang menengadah menunggu cercahan sinarnya pertamanya muncul.

Gemintang diam saja, ia tidak pernah pergi sebetulnya, keberadaannya hanya tertutupi oleh Kuatnya pancaran sinar Mentari. Ia tahu, Kabut  resah karena dia akan hilang seiring kedatangan Mentari. Hanya hujan yang selalu diharapkan oleh Kabut, karena hujan selalu menolong Kabut untuk tetap eksis. Dalam derasnya hujan, kabut bebas menemani gemintang tanpa ada yang mengganggu.

Puncak Semeru adalah yang pertama menanti kehadiran Mentari. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia justru sebal dengan kabut yang berlama-lama pergi. Tidakkah kabut menyadari, setiap harinya, puluhan bahkan ratusan anak manusia berdiri berderet-deret diatasnya setelah lelah dan dingin menerpa, berharap kabut menyingkir dan indahnya semburat mentari pertama menjatuhi tubuh mereka, membuktikan kemampuan mereka untuk entah mengalahkan apalah namanya, Ego? kepuasan batin? pencinta ketinggian? pemburu mentari? ah entahlah.

Semeru tidak pernah mengerti apa sebenarnya yang dicari dari setiap anak manusia yang berlomba-lomba menaiki dirinya. Namun, ia bisa merasakan perjuangan dan keteguhan hati mereka. Semeru senang merasakan itu semua. Semeru Senang

 

sunrise bromo

 

Hari itu, kabut terpaksa mengalah, Ia hilang disinari oleh cahaya mentari. “sampai jumpa beberapa jam lagi Gemintang”, ujarnya pedih sementara eksistensinya perlahan menghilang. Kawannya sang Hujan sedang sibuk bertugas di Selatan Jawa, ia tidak diperintahkan untuk datang di belahan timur hari itu.

Gemintang tersenyum “Aku selalu disini, kabut, datanglah kembali, aku menunggumu”

Mentari tersenyum jumawa. Puluhan entahlah mungkin ratusan anak manusia berguling dan melompat kesenangan di Puncak Semeru, sebagian ribut berseru-seru menyoraki kehadiran Mentari yang selalu datang dengan spektakuler. Sebagian sujud syukur atau mengucap syukur dalam hati. Tapi semuanya sama, mengarahkan sebentuk benda aneh yang diarahkan ke masing-masing diri mereka. Semeru bisa melihat dirinya di benda itu. Semeru bisa melihat dirinya di setiap benda itu. Semeru senang, Semeru selalu senang. Semeru jarang sekali marah, Ia ramah.

 

sunrise

 

Mentari bersinar hari itu di ujung timur Pulau Jawa. Kehadirannya menyibak udara dingin yang dibawa oleh Kabut. Saya tersenyum senang, meski hari itu tidak berada di Puncak Semeru yang ramah, cukuplah di sini saja, di Penanjakan 1 bersama gerombolan manusia lain yang membanjir menempati setiap petak tanah yang ada. Saya cukup lega ketika akhirnya kabut pergi meskipun sedih kehilangan keindahan gemintang.

 

full sunrise bromo

Untuk kamu pencinta ketinggian, semoga di atas sana tidak sedang hujan ya, selamat bersenang-senang.

 

Sabtu, 06062015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s